Hai Jiwa Bagaimanakah Engkau!?


Bismillah

dhikr_ul_llaah_by_lechistani (1)

Copyright: lechistani

Wahai Yang Bernama Diriku,

Telah menulis Imam Ahmad Rifaie dalam kitabnya[1]

Adalah Malik B Dinar Rahimahullah selalu menangis dan berkata:-

Hai jiwa! Engkau kepingin hendak duduk di samping ALLAH[2] dan kepingin melihat Nabi pilihan (’Alahihumussalam)

TETAPI

Syahwat mana yang telah engkau tinggalkan?!

Yang jauh mana satukah Engkau telah dekatkan kepada ALLAH?

Kekasih ALLAH yang engkau sudah cintainya kerana ALLAH?

Musuh manakah yang sudah engkau bencinya kerana ALLAH?

Kemarahan yang manakah yang sudah engkau menahan diri kerana ALLAH?

TIDAK!

Kalaulah tidak kerana Rahmat ALLAH dan PengampunanNYA ……

Maka Malik B Dinar kemudiannya pun pengsan.

Begitulah,

Kisah para salaf yang mampu membuatkan diri terpana

Jesteru itu,

Wahai yang bernama diriku

Engkau yang masih sedikit mujahadahnya

Engkau masih banyak syahwat yang didahulukannya

Engkau masih banyak nafsu liarnya

Engkau masih banyak lalainya

Bukan

Bukan dirimu yang menjadikan dirimu

Bukan ketaatan itu hasil usahamu

Bukan kebaikan itu milik dirimu

Kalaulah tidak kerana ALLAH memberi

Engkau tidak merasa apa itu taat & ibadah

Kalau tidak kerana PemberianNYA

Engkau tidak berada dalam penghambaan

Di balik simpar siur kelalaian dan maksiahmu itu

Jangan sedikitpun dirimu merasakan

Engkau miliki apa yang engkau ada[3]

Wahai yang bernama diriku

Engkau berharap memilik tempat mulia di sisi Rabmu?

Sebenarnya masih belum layak lagi dirimu

Dalam syahwah dan nafsu yang dibebas lepas

Engkau masih tertipu

Dalam kibriya’ dan memandang manusia dan dirimu

Dalam ujub, riya dan nafsu yang beraja

Engkau tidak sangat masih tidak layak

Untuk apa-apa

Sampai kapan pun

Jika bukan kerana Belas Kasihan dan Rahmah ALLAH

Oleh itu WAHAI JIWA DIRIKU

TUNDUKLAH ENGKAU DI HADAPAN RABMU!![4]

أُولَـٰئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ مِن ذُرِّيَّةِ آدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِن ذُرِّيَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْرَائِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا ۚ إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَـٰنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا

Mereka itulah sebahagian dari Nabi-nabi yang telah dikurniakan Allah nikmat yang melimpah-limpah kepada mereka dari keturunan Nabi Adam dan dari keturunan orang-orang yang Kami bawa (dalam bahtera) bersama-sama Nabi Nuh dan dari keturunan Nabi Ibrahim dan (dari keturunan) Israil- dan mereka itu adalah dari orang-orang yang Kami beri hidayat petunjuk dan Kami pilih.

Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat (Allah) Ar-Rahman, mereka segera sujud serta menangis ٍ 19:59


[1] Imam ArRifaei, Haalat Ahlil Haqiqah Ma’allah, p.368. Ter: Syeikh Ahmad Semait.

[2] Yakni dengan harapan dapat melihat ZAT ALLAH. Sudah menjadi keinginan paling tinggi dan tunggal bagi mereka yang mencari ALLAH, hanya untuk medapat nikmah paling besar, yakni melihat ZAT ALLAH.

[3] قُل لِّمَن مَّا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ قُل لِّلَّهِ ۚ كَتَبَ عَلَىٰ نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ ۚ لَيَجْمَعَنَّكُمْ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ لَا رَيْبَ فِيهِ ۚ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنفُسَهُمْ فَهُمْ لَا يُؤْمِ

Bertanyalah (wahai muhammad): Hak milik siapakah segala yang ada di langit dan di bumi? Katakanlah: (Semuanya itu) adalah milik Allah. Dia telah menetapkan atas diriNya memberi rahmat. Demi sesungguhnya Dia akan menghimpunkan kamu pada hari kiamat yang tidak ada sebarang syak padanya. Orang-orang yang merugikan diri sendiri (dengan mensia-siakan pengurniaan Allah), maka mereka (dengan sebab yang tersebut) tidak beriman. 6:12

[4] Dengan penyerahan penuh ketaatan, tunduk, mendahului ALLAH dari nafsu, syahwat dan kehendak diri, menyukai apa yang ALLAH suka & pilih dan tidak bersenang-senang maksiah dan dosa. Serta hanya memandang ALLAH.

Advertisements

3 thoughts on “Hai Jiwa Bagaimanakah Engkau!?

  1. Allahu Allah..
    sungguh benar, sungguh benar

    yang tiada, diada-ada
    sedang hakikinya jauh, dari rasa

    tiadalah ketahuan, apalagi kepastian
    segala amal perbuatan

    yang zahir mahupun batin
    diterima, atau dijungkir balik

    Ya Ilahi Rabbi,
    tundukkan nafs ini,

    demi kehendak-Mu,
    dengan belas kasih, bukan pengadilan-Mu..

    tiada terdaya lagi berupaya
    sang hamba menggerakkan segala
    melainkan kehendakMu, semuanya..

  2. Saudaraku yang dimuliakan ALLAH

    Bagai air melimpah, terima kasih atas tambahanmu itu.

    Namun adakah benar adanya diri kita ini?

    Sedang asal tiada kemudian ada sedang hakikatnya tetap tiada?

    (Semuanya milik ALLAH)

    Yang tiada apa-apa ini selalu memilih selain ALLAH,

    Memandang diri dan menamakan diri dengan sikap keakuan (ananiyyah)

    Kalau diukur dari ibadah, pakaian, jilbab, hijab maka apakah yang ada selain diselaputi banyaknya nafsu lawwamah dan ammarah bissu’?

    Namun kerana masih merasa diri kita sebagai hamba, maka ketaatan itu wajib dipersembah atas kehendak dan akur pada Sang Maha Besar, ALLAH.

    Tunduklah wahai jiwaku, wahai nafsuku.

    Dan engkau wahai diri, nafsu dan jiwa sangat perlu
    untuk diajar, ditekan, dipukul sekali sekala agar tahu letak duduknya bukan di atas namun di bumi agar dikendali sebagai hamba juga bukan tuan kepada hamba.

    Allahu, ALLAHU, jika difikir dosa, maksiah dan ananiyyah yang melata, adakah walau sepicing nikmah yang berhak kita kecapi?

    Bahkan tiada.

    Namun kerana kita hamba jua khalifah, kita menurut dan akur pada AR-Razzaq dan AlFattah.

    Allahuakbar, ENGKAU Maha Besar, dan kami tiada apa-apa.

    Tertipulah kita pabila mengharap sedang tiada ketaatan dan penyembahan dan penundukan.

    Tertipulah kita apabila memandang diri dan bukan pada Tuhan

    Tertipulah kita apabila berputus asa pada Rahmah Tuhan

    Selamatkan kami dari diri kami sendiri ya RAB!!

  3. Wahai yang Maha Memiliki
    kesemua segala sesuatu
    tidak terlepas dari milikanMu

    Wahai yang Maha Mengetahui
    tidak suatu pun
    yang berlaku dan berlalu pergi
    yang terlepas tanpa izinMu
    dan bisa kabur dari pandanganMu

    Ya ALLAH yang maha Mencintai
    tiada hitam kelihatan kelam (ujian/kebatilan)
    tiada putih kelihatan bersih (kebaikan)
    tanpa diiringi kasih Mu
    dan tidak kami buta (dalam menilai hikmah)
    atau tidak kami celik
    tanpa ilham Mu (petunjuk)

    Allahu Allah,
    sampai kapan pun,
    kami pasti butuhkan Mu

    p/s: terima kasih ukht al qasam atas ingatan bersama. Semakin rindu dengan adik dan semakin rindukan-Nya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s