Ramadhan 19: Aku Yang Tertinggal Gerabak


Oh,

Aku yang tertinggal gerabak

Di hentian itu

Mengejar cinta yang tertangguh

Penuh melimpah

Hingga aku tertinggal gerabak lagi

Oh,

Aku yang tertinggal gerabak

Ditemani rona pagi yang tersenyum simpul

Memerli aku kah?

Desir semilir desa pagi yang menusuk

Tajam menghiris halus

Berbicarakah?

Dengan aku

Aku yang terpisat kesejukan

Di situ; sendirian.

Akulah itu yang tertinggal gerabak

Di hentian itu

Akulah

Akulah

Yang tertinggal gerabak lagi

Dalam mengejar cinta yang tertangguh

Tidak aku tidak

Tetap aku menanti di hentian itu

Menanti gerabak

Demi memenuhi cinta yang tertangguh

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s